Thursday, 16 March 2017

Tarte de Gila.


Resto lokal di negri tepi Atlantik Utara ini rata-rata menyajikan aneka ikan dan “buah-buahan laut” atau frutos do mar - dalam kondisi luar biasa segar, serasa baru ditangkap sebelum dipindah ke piring saji. Bahkan ikan teri gede makanan kucing, di buku menu tertulis horse mackerel, renyah garing diluar, lembut dagingnya, hingga kremes tulang belulangnya. Tiada tersisa dalam sekejap.





Sambel di tanah air yang tiada tertandingi kehebohan rasanya. Disini molho de pimenta .. yah.. pedasnya cukup membuat mata melotot lama. Nasi yang diharapkan steam rice biasa, tersaji dalam model nasi goreng. Makin sempurnanya : gak pakek lama ! nunggunya.





Apalagi garupa kumplitnya, super segar ditiap gigit dan kunyahannya !




Lalu bagaimana dengan dessert ?
“yuhuuu.. Paman Waiter, ini apa yah maksudnya ?”





Walau buku menu main course tersedia dalam berbagai bahasa, dessert hanya selembar dan dalam bahasa lokal pulak. Makin terooknya, Paman Waiter tidak dilengkapi automatic google translate, cuma bisa jawab “ finished ! “
Dan filmnya Sofia Coppola pun terulang lagi, si penanya serius pingin tau artinya “gila” ..
dan jawaban lost in translation nya selalu “finished” ..
sampai akhirnya, si penanya ngakak sendiri, ini yang gila - dia ? apa guwe yak ?
yowis lah, Paman.. di negri tercinta eikeh sono ada nasgor gila, kalo disini gila nya dah abis, aye pesen puding karamel aja yah..


Sambil menikmati flan yang lebih dominan pahit dari manisnya, Paman Waiter menunjukkan sejenis labu dengan senyum lebar “ isto e gila .. “
Senyum si penanya lebih lebar lagi : “oo eu vejo.. obrigado Senhor !.. “

Marques Pombal, 16/3/2017.
kang ketik.

                 

Monday, 13 March 2017

Cristo Rei, Lisboa, Portugal


dari jalan di Almada, begini penampakan Monumen Cristo Rei..


tolong baca sejarahnya..












Lisboa dari seberang..


keliatan tuh ferry yang mondar mandir..


maaf, nutupin jembatannya


ini jembatan full in action


maaf, kepotong lagi jembatannya


Maret bulan maintenance,
gak cuma Istiqlal yah..
monumen ini pun di bersihkan..


sayang sorangan ngerjainnya..


tolong semprot yang bersih yaa..


gabisa naik sampe Cristo Rei, karena lift nya lagi diganti, gabisa juga naik tangga, jadi tolong balik lagi April ini yaa..


balik ke Lisboa, ngantri di tol..


macet juga euy..

Cristo Rei, Almada, 13 Mar 2017,
Kang Ketik.













Sunday, 12 March 2017

rissol Porto


Toko rissol ini tutup hari Minggu. Kecewa juga, tau gini - kmaren beli banyakan. Yang perlu dicatat, cara kang rissol ini menjajakan dagangannya : menyapa siapapun yang lalu lalang didepan toko, sambil ngunyah rissolnya, trus ngiklan : "ini enaaaak banget loh !" sembari ngelap bibirnya yang belepotan minyak.

Siapapun yang lewat, pasti terkesima dengan "tembakan" kereeen kang rissol ini, ditambah rayuan semerbak bau rissol fresh anget from penggorengan, toko yang mungil tapi bersih dan asri, jaminan mutu untuk terjebak mampir dan beli.    

Pilihan isi rissolnya banyak : tuna, ayam, sapi, seafood, vegetarian, salmon, juga yang non halal.


Hanya buka Senen - Sabtu, gini penampakan toko mungilnya.

Namun maaf, agak ke-pe-de-an iklan dipintunya : the best Rissol in the world !
Nampaknya, belum pernah dia makan risol bikinan tanah air beta tercinta.. yang kelezatannya tiada tara bandingnya !
Karena di Porto hanya 4 hari dan susah nyari makanan yang sesuai lidah pun akidah, maka "the best Rissol" ini cukuplah buat ganjel perut, diantara makan besar.




Jam buka mulai tengah hari, sampe tengah malam, kecuali Jum'at dan Sabtu sampe jam 2 pagi.


beli 4 potong, gak dikasi kantong plastik, tapi dus karton tanpa tutup.. mungkin maksudnya sebagai ganti piring atau mangkok..


ngintip tuh mereka.. ini isi ayam, tuna, seafood..


penampakan isi ayam..


the verdict :
Dinding luar kulit risol tersalut tepung panir, renyah namun tidak sampai crispy. Bagian dalam kulit lembut, dan rasa isinya sangat sopan. Bumbu terasa samar, tidak menohok seperti risol tanah air beta. Walaupun begitu, isi utama seperti ayam, seafood, salmon, tuna.. terasa segar dan lumayan melimpah.

Kebiasaan makan risol dicocolkeun saos chili, atau sambal kacang, atau nyeplus cengek, tidak ditemukan disini.

yawdah, gigit, kunyah, nikmati apa adanya, terus telen gitu aja !

Porto, 12 Mar 2017,
Kang Ketik.

Saturday, 8 October 2016

upil biru

Sore tadi pulang jalan kaki bareng tetangga Kontraktor Lansekap, a.k.a Hortikulturis, alias Walking Wikipedia spesialis tumbuhan. Sepanjang jalan do’i berbagi berbagai ilmunya, hingga sampailah kami dekat deretan pagar hijau, pembatas pedestrian dan sawah ladang, dipetiknya sebutir buah kebiruan segede upil..

“Ki.. ini bluberi liar.. bisa diolah jadi macem-macem, juga beragam khasiatnya.. “

“masa siy ? gak ada bekas patokan burung ato gigitan serangga gitu.. bukannya itu pertanda, kalo mereka aja gak doyan.. biasanya beracun.. “ yang dikasi tau ini meragukan kecanggihannya..

“iya Ki, rasanya memang gak semanis bluberi hasil kebon, dan gabisa di freeze, enak kalo dimakan segera abis dipetik, bisa di jus, buat saos, ato diperam jadi liqeour..” promosinya..

“oh ya ??? .. “ ogud pura-pura antusias, “kalo gitu besok pagi kupanen semua deh.. “ sambil senyum ngeledek.. laah.. gimana gak pengen ngeledek, itu bluberi upil, sepanjang pager ini kupanen semua-pun gak bakal cukup dibikin jus sebotol.

depan waserba, kami berpisah, ogud musti beli ini itu buat makan malem..
keluar warung jalan sendirian pulang, daku papasan lagi dengan Pak Horti ini, bawa keranjang lumayan gede, mungkin disuruh nyonyahnya beli ini itu juga buat makan malem..

“tadi bukannya sekalian mampir warung dulu, Paak.. “ ledekku.. “jadi gak bolak balik gini.. kaan.. “

“gak ke warung kok Ki.. “ Pak Horti nyautin, “mo ambil bluberi nya buat saos malem ini.. bagi dikit yah Ki.. “

“ealaah.. Paak.. sok atuh, milik umum kan pagernya, siapapun bole panen dong.. “ dalam hati ngakak..  pasti Pak Horti ngira, besok daku beneran ngabisin semua upil biru itu.. jadi terpaksa better take them now, before keabisan..

Padahal, sumprit, bluberi gede seger dari kebon yg asem manis itu aja ogud gak doyan-doyan amir.. apalagi ini.. yg sepet se-upil dan musti petikin satu-satu aku sayang Ibu.. gitchu..

Bad Nauheim, Herbs 2016.
Kang Ketik.

Wednesday, 15 September 2010

Mercedes Museum Stuttgart

Bentuk luar Museum Mercedes-Benz di Stuttgart ini mengingatkan pada sarang lebah di film kartun. Maaf, subyektif ini. Jika terbaca oleh konsultan Belanda UNStudio, pemenang sayembara arsitektur museum ini, ngamuk kali yah ?

Mengenai bentuk dan konsepnya, Ben van Berkel, salah satu pendiri dan direktur UNStudio, mengatakan : "The Mercedes‑Benz Museum sets up an interface for a series of radical spatial principles in order to create a completely new typology."

Siip lah. Kenyataannya, penggunaan ramp landai dari lantai ke lantai, mirip konsep sirkulasi pada museum Gugenheim Manhattan New York.
Atau makin jauh membadingkannya dengan sirkulasi ramp pada pertokoan Blok M Plaza Jakarta.

Pada Gugenheim, kecuali pada lantai dasar, keseluruhan lantai berupa spiral ramp. Pengunjung bisa jalan kaki hingga mencapai lantai teratas, tanpa bantuan lift. Atau lebih nyaman lagi, bila naik lift sampai tingkat teratas, lalu turunnya jalan pelan mengikuti spiral ramp.
Pada Museum Mercedes, mungkin terinspirasi logonya : lingkaran terbagi tiga mata anak panah, pada setiap zona ketinggian, menyajikan tiga ruang mendatar sempurna, tempat mempamerkan koleksi. Antara ruang mendatar ini dihubungkan dengan ramp.
Setelah membayar tiket masuk, pengunjung diantar naik lift sampai lantai teratas, lalu turun jalan santai melalui ramp sampai pada zona mendatar untuk menikmati koleksinya.  

Koleksi Museum dipajang sesuai sekuel waktu dan tahun pembuatan. Lantai teratas memajang koleksi paling antik. Mulai dari kuda, roda, kereta uap, dan seterusnya.
Makin kebawah lantainya, makin modern koleksinya.

Seharian penuh dalam museum ini tidak akan bosen rasanya. Memotret diperbolehkan sepuasnya. Tips kesini : early bird gets the worm. Usahakan sebelum jam 9 pagi sudah disini. Tidak rugi datang 30 menit bahkan sejam sebelumnya, karena toko souvenir dan cafeteria sudah buka. Juga sisi showroom tiga lantai yang mempamerkan mobil keluaran terbaru.

kang ketik, Stuttgart 2010.