Bentuk
luar Museum Mercedes-Benz di Stuttgart ini mengingatkan pada sarang lebah di
film kartun. Maaf, subyektif ini. Jika terbaca oleh konsultan Belanda UNStudio,
pemenang sayembara arsitektur museum ini, ngamuk kali yah ?
Mengenai
bentuk dan konsepnya, Ben van Berkel, salah satu pendiri dan direktur UNStudio,
mengatakan : "The Mercedes‑Benz Museum sets up
an interface for a series of radical spatial principles in order to create a
completely new typology."
Siip
lah. Kenyataannya, penggunaan ramp landai dari lantai ke lantai, mirip konsep
sirkulasi pada museum Gugenheim Manhattan New York.
Atau
makin jauh membadingkannya dengan sirkulasi ramp pada pertokoan Blok M Plaza
Jakarta.
Pada
Gugenheim, kecuali pada lantai dasar, keseluruhan lantai berupa spiral ramp. Pengunjung
bisa jalan kaki hingga mencapai lantai teratas, tanpa bantuan lift. Atau
lebih nyaman lagi, bila naik lift sampai tingkat teratas, lalu turunnya jalan
pelan mengikuti spiral ramp.
Pada
Museum Mercedes, mungkin terinspirasi logonya : lingkaran terbagi tiga mata
anak panah, pada setiap zona ketinggian, menyajikan tiga ruang mendatar
sempurna, tempat mempamerkan koleksi. Antara ruang mendatar ini dihubungkan
dengan ramp.
Setelah
membayar tiket masuk, pengunjung diantar naik lift sampai lantai teratas, lalu
turun jalan santai melalui ramp sampai pada zona mendatar untuk menikmati
koleksinya.
Makin
kebawah lantainya, makin modern koleksinya.
Seharian
penuh dalam museum ini tidak akan bosen rasanya. Memotret diperbolehkan sepuasnya.
Tips kesini : early bird gets the worm. Usahakan sebelum jam 9 pagi sudah
disini. Tidak rugi datang 30 menit bahkan sejam sebelumnya, karena toko
souvenir dan cafeteria sudah buka. Juga sisi showroom tiga lantai yang
mempamerkan mobil keluaran terbaru.
kang ketik, Stuttgart 2010.
kang ketik, Stuttgart 2010.
No comments:
Post a Comment