Resto lokal di negri tepi Atlantik Utara ini rata-rata menyajikan aneka ikan dan “buah-buahan laut” atau frutos do mar - dalam kondisi luar biasa segar, serasa baru ditangkap sebelum dipindah ke piring saji. Bahkan ikan teri gede makanan kucing, di buku menu tertulis horse mackerel, renyah garing diluar, lembut dagingnya, hingga kremes tulang belulangnya. Tiada tersisa dalam sekejap.
Sambel di tanah air yang tiada tertandingi kehebohan rasanya. Disini molho de pimenta .. yah.. pedasnya cukup membuat mata melotot lama. Nasi yang diharapkan steam rice biasa, tersaji dalam model nasi goreng. Makin sempurnanya : gak pakek lama ! nunggunya.
Apalagi garupa kumplitnya, super segar ditiap gigit dan kunyahannya !
Lalu bagaimana dengan dessert ?
“yuhuuu.. Paman Waiter, ini apa yah maksudnya ?”
Walau buku menu main course tersedia dalam berbagai bahasa, dessert hanya selembar dan dalam bahasa lokal pulak. Makin terooknya, Paman Waiter tidak dilengkapi automatic google translate, cuma bisa jawab “ finished ! “
Dan filmnya Sofia Coppola pun terulang lagi, si penanya serius pingin tau artinya “gila” ..
dan jawaban lost in translation nya selalu “finished” ..
sampai akhirnya, si penanya ngakak sendiri, ini yang gila - dia ? apa guwe yak ?
yowis lah, Paman.. di negri tercinta eikeh sono ada nasgor gila, kalo disini gila nya dah abis, aye pesen puding karamel aja yah..
Sambil menikmati flan yang lebih dominan pahit dari manisnya, Paman Waiter menunjukkan sejenis labu dengan senyum lebar “ isto e gila .. “
Senyum si penanya lebih lebar lagi : “oo eu vejo.. obrigado Senhor !.. “
Marques Pombal, 16/3/2017.
kang ketik.
































