Wednesday, 15 September 2010

Mercedes Museum Stuttgart

Bentuk luar Museum Mercedes-Benz di Stuttgart ini mengingatkan pada sarang lebah di film kartun. Maaf, subyektif ini. Jika terbaca oleh konsultan Belanda UNStudio, pemenang sayembara arsitektur museum ini, ngamuk kali yah ?

Mengenai bentuk dan konsepnya, Ben van Berkel, salah satu pendiri dan direktur UNStudio, mengatakan : "The Mercedes‑Benz Museum sets up an interface for a series of radical spatial principles in order to create a completely new typology."

Siip lah. Kenyataannya, penggunaan ramp landai dari lantai ke lantai, mirip konsep sirkulasi pada museum Gugenheim Manhattan New York.
Atau makin jauh membadingkannya dengan sirkulasi ramp pada pertokoan Blok M Plaza Jakarta.

Pada Gugenheim, kecuali pada lantai dasar, keseluruhan lantai berupa spiral ramp. Pengunjung bisa jalan kaki hingga mencapai lantai teratas, tanpa bantuan lift. Atau lebih nyaman lagi, bila naik lift sampai tingkat teratas, lalu turunnya jalan pelan mengikuti spiral ramp.
Pada Museum Mercedes, mungkin terinspirasi logonya : lingkaran terbagi tiga mata anak panah, pada setiap zona ketinggian, menyajikan tiga ruang mendatar sempurna, tempat mempamerkan koleksi. Antara ruang mendatar ini dihubungkan dengan ramp.
Setelah membayar tiket masuk, pengunjung diantar naik lift sampai lantai teratas, lalu turun jalan santai melalui ramp sampai pada zona mendatar untuk menikmati koleksinya.  

Koleksi Museum dipajang sesuai sekuel waktu dan tahun pembuatan. Lantai teratas memajang koleksi paling antik. Mulai dari kuda, roda, kereta uap, dan seterusnya.
Makin kebawah lantainya, makin modern koleksinya.

Seharian penuh dalam museum ini tidak akan bosen rasanya. Memotret diperbolehkan sepuasnya. Tips kesini : early bird gets the worm. Usahakan sebelum jam 9 pagi sudah disini. Tidak rugi datang 30 menit bahkan sejam sebelumnya, karena toko souvenir dan cafeteria sudah buka. Juga sisi showroom tiga lantai yang mempamerkan mobil keluaran terbaru.

kang ketik, Stuttgart 2010.